Sebutannya LC. Entah darimana munculnya istilah itu, tapi di wilayah karaoke, kepanjangannya pasti berarti : lady-companion. Artinya, gadis peneman tamu. Selain LC, ada juga beberapa istilah lain seperti madame, hostes, escort dan pemandu lagu yang biasanya masih digunakan di sejumlah karaoke. Hanya saja, saat ini sebutan LC lah yang paling serind digunakan.
Sama seperti bahasa gaul, yang mengalami dinamisasi yang begitu cepat, di dunia malam pun, terjadi proses yang nyaris serupa. Istilah-istilah sering muncul begitu saja, terutama yang urusannya menyangkut menu-menu seks.
By the way, ngomong-ngomong soal LC, pekerjaan utamanya : menemani tamu minum, ngobrol dan yang pasti, menyanyi. Paling tidak, ketiga syarat itu harus dimiliki seorang LC. Tapi, dalam perkembangan, tugas seorang LC lama-lama ‘menyesuaikan’ dengan tempat dimana mereka bekerja. Jadi, jangan heran kalau LC bisa dikelompokkan dalam beberapa katagori.
Katagori (1) LC yang menjalankan tugasnya sesuai dengan rule of the game yang sebenarnya. Artinya, LC yang “lurus-lurus” saja. Selain menemani minum, ngobrol dan nyanyi, mereka tak mau memberikan ekstra pelayanan yang lain. Jangan minta apalagi maksa untuk berbuat yang “aneh-aneh”, itu rule of the game-nya.
Katagori (2) LC dengan label “rada-rada”. Maksudnya? Ya, selain menemani ngobrol, minum dan (kalo bisa) nyanyi, tapi juga nggak menolak untuk memberikan atraksi BBM (Belai-Belai Mesra). Dalam istilah seksologi, mungkin lebih pas di’labeli’ half-petting atau bahasa gaulnya “kentang” alias kena tanggung. Ya iyalah! Selain belai-belai mesra, mereka jarang sekali mau memberikan service lanjutan.
Katagori (3) LC Party. Nah, ini yang banyak dibicarakan orang dan so pasti, digemari para Karaoke Mania. Sesuai dengan label namanya, mereka ini adalah kelompok LC yang intinya : bisa diajak berpesta sampai tuntas tas tassss….!!! Istilah ‘party’ itu seolah ingin memberikan gambaran seluas-luasnya kalau mereka bisa memberikan ‘apa saja’ dalam rangka menyenangkan tamu yang membokingnya. Dari mulai ber-naked-ria sambil bernyanyi dan berjoget sampai sex-service ala full-body-contact.
Karena dari segi pelayanan yang diberikan berbeda-beda, jelas membuat harga yang dipatok untuk LC Party jauh di atas rata-rata. Kalau biasanya, bandrol 1 Voucher berkisar antara Rp. 350 – 500 ribu, maka untuk mendapatkan 1 LC Party setidaknya seorang tamu mesti membayar 3-5 voucher. Ini belum termasuk tip yang jumlahnya sangat mungkin berada di atas angka Rp. 500 ribu. Uang tip itu sangat bergantung pada durasi mereka bekerja. Durasi di atas 3 jam, pasti jumlahnya tip-nya lebih besar.
Selain bandrol voucher dan tuntutan tip yang di atas rata-rata, para LC party ini juga dikenal sebagai cewek-cewek “pro”. Maksudnya, pro-fesional dalam melakoni tugas yang berhubungan dengan transaksi seks. Di wilayah karaoke, ada dua jenis transaksi seks yang popular dan sampai kini masih jadi tren.
(1) OP alias transaksi & eksekusi seks on the spot.
(2) BO >Booking Out alias transaksi seks ala take away. Datang dengan dijemput, pulang terserah tamu yang memboking-nya (diantar boleh, nggak…juga nggak masalah).
Di beberapa karaoke, bandrol OP nggak kurang dari Rp. 1,5 juta. Itu belum termasuk jumlah voucher dan tip. Sementara, untuk transaksi BO, harganya tergantung dari negosiasi tamu dengan mami dan si LC. Tapi, rata-rata nggak kurang dari angka Rp. 2-3 juta. Atau kalau dihitung berdasarkan voucher, biasanya satu transaksi dikalikan 5-10 voucher. Tapi, teteeeeep….semua tergantung dari hasil nego di tempat.
Uang! Ehmm….swear, nyatanya memang jadi faktor dominan yang melatarbelakangi LC-LC Party. Ini bisa dimengerti –untuk sejumlah alasan— mengingat sumber pendapatan utama mereka adalah dari tip tamu. So, apa yang paling menjadi keinginan tamu, para LC mesti bisa memenuhinya. Karena ujungnya, tetaplah uang yang berbicara. So, berhati-hatilah ketika uang menjadi ‘raja’. Jeratannya bisa membuat otak jadi gila. Embeeer!!!
| Photo by Emka.
.jpg)
0 comments:
Post a Comment