
Kepada Closet, hari ini gue banyak bercerita dan bertanya. Sebabnya sederhana, dari pagi ampe sore, gue balok-balik ke toilet sampai 4 kali.
(1) Bangun tidur, perut gue mendadak mules dan terpaksa harus duduk termenung di atas closet sambil baca koran hari ini. Mungkin karena kebanyakan makan sambel dan indomie rebus yang gue telen jam 4 pagi sambil main gaple di kawasa Menteng. Selain berita Kedubes India yang kena bom Kabul, gue juga dapet berita soal kemenangan Rafael Nadal atas Roger Federer di ajang Wimbledon yang diakuinya sebagai “kemenangan terindah”.
(2) Selesai dari toilet, gue bersantai di teras rumah sambil menyeruput segelas kopi. Sebatang rokok yang gue hisap, rasanya nikmat sekal. Sayang, pagi itu suasana agak sepi karena Jacko —anjing pitpull temen gue, lagi diungsikan ke rumah saudaranya di Kelapa Gading. Baru 10 menit leha-leha, perut gue mules lagi. Jadinya, gue buru-buru ke toilet lagi dan merenug di atas closet untuk kedua kali.
“Cerita Kebelet Kawin mesti pake setting apa ya?”
Otak gue jadi kepikiran cerita Kebelet Kawin yang mesti kelar hari ini.
“Sinopsis Belilah Aku Jadi Pacarmua kayaknya kurang oke tuh. Mesti gue ubah di prolognya sama lika-liku yang terjadi di dunia escorting?”
Satu demi satu, otak gue dipenuhi pertanyaan seputar cerita Kebelet Kawin dan Belilah Aku Jadi Pacarmu. Selama 15 menit di atas closet, gue belum juga menemukan ide cemerlang. Buntu! Semuanya masih berbentuk pertanyaan.
(3) Perih! Bukannya lega, perut gue malah makin sakit. Pasti ini karena kebanyakan makan sambel dan jadwal tidur yang nggak menentu. Sambil duduk di sofa dan nonton tipi, otak gue berpikir mencari-cari ide. Tapi, rasa sakit di perut gue, nggak banyak membantu. Malah, untuk ketiga kalinya, gue mesti balik lagi bercinta dengan closet.
“Cowok yang kebelet kawin itu mestinya harus tipikal libido tinggi, nggak nakal, malu-malu kucing dan bla…bla..bla….” otak gue terus berputar.
“Cewek yang jadi tokoh di Belilah Aku Jadi Pacarmu harus “beda banget” dari film-film yang udah ada. Konfliknya mesti lokal banget, sisi sex ‘n Jakarta-nya harus dominan, dan seterusnya….”
Byar! Lagi-lagi pertanyaan itu belum terjawab dengan sukses. Finally, jam 1 siang, gue mandi dan segera meluncur ke Coffee Club, Plaza Senayan.
(4) Meneguk secangkir kopi, untuk kedua kali sambil membuka email. 15 menit kemudian, perut gue mules lagi. Untuk kali keempat, gue duduk lagi di atas closet. Dan…ide itu tiba-tiba datang. Melesat dengan cepat dan tahu-tahu, di kepala gue udah kebayang kerangka cerita yang mesti gue masukin buat film Kebelet Kawin dan Belilah AKu Jadi Pacarmu.
“Enak juga merenung di atas closet. Cukup membantu gue menemukan ide meskipun rada serabutan. Setidaknya, rasa sakit di perut gue, jadi kebayar lunas….”
Note : Punya cerita yang menarik tentang closet? Nggak ada salahnya share di web ini. Thanks!!!! (foto: courtessy www.tempe.gov)