Monday, July 14, 2008

MALU BERTANYA NYASAR DI RANJANG



Sebulan ini, gue lumayan sibuk dengan sejumlah proyek film, sebuah dunia yang tadinya masih asing buat gue. Tapi begitu mulai masuk dan nyebur ke dalam, eeiit...ternyata mengasyikkan. Nggak beda jauh ama industri buku. Benang merahnya erat bangets.

Makanya, setelah melalui diskusi yang lumayan panjang, gue bersama Krishto & Mandy Marahimin, akhirnya sepakat untuk mengibarkan bendera Lolipop Pictures.

Thanks, God! Sejumlah proyek sudah menunggu di depan mata. Salah satunya yang sekarang lagi gue gali ceritanya adalah Malu Bertanya Nyasar Di Ranjang. Jangan mikir ngeres dulu begitu baca judulnya. Cerita ini, maunya gue lebih banyak unsur komedinya. Dan ikon Ranjang menjadi hanya untuk "pemanis" lah.

Setting ceritanya juga nggak ribet-ribet banget kok. Kira-kira tentang seorang cowok yang so tau, super pede, keras kepala, dan nggak gaul (tapi punya duit). Gara-gara beberapa sifatnya itu lah, membuat cowok itu mesti melalui sebuah petualangan yang akhirnya membawa dia pusing tujuh keliling.

Misalnya : apa yang terjadi dengan cowok itu ketika suatu ketika ia nyasar di sebuah kelab transeksual? atau....ketika ia salah masuk ke sebuah bar gay? atau...saat si cowok yang so tau itu neken viagra yang tadinya dia pikir permen?

Ck...ck...maunya gue, mood film itu dipenuhi adegan "kekagetan" dan kekonyolan yang seru (and so pasti bikin ketawa).

Tuesday, July 8, 2008

BERCINTA DI ATAS CLOSET


Kepada Closet, hari ini gue banyak bercerita dan bertanya. Sebabnya sederhana, dari pagi ampe sore, gue balok-balik ke toilet sampai 4 kali.

(1) Bangun tidur, perut gue mendadak mules dan terpaksa harus duduk termenung di atas closet sambil baca koran hari ini. Mungkin karena kebanyakan makan sambel dan indomie rebus yang gue telen jam 4 pagi sambil main gaple di kawasa Menteng. Selain berita Kedubes India yang kena bom Kabul, gue juga dapet berita soal kemenangan Rafael Nadal atas Roger Federer di ajang Wimbledon yang diakuinya sebagai “kemenangan terindah”.

(2) Selesai dari toilet, gue bersantai di teras rumah sambil menyeruput segelas kopi. Sebatang rokok yang gue hisap, rasanya nikmat sekal. Sayang, pagi itu suasana agak sepi karena Jacko —anjing pitpull temen gue, lagi diungsikan ke rumah saudaranya di Kelapa Gading. Baru 10 menit leha-leha, perut gue mules lagi. Jadinya, gue buru-buru ke toilet lagi dan merenug di atas closet untuk kedua kali.

“Cerita Kebelet Kawin mesti pake setting apa ya?”

Otak gue jadi kepikiran cerita Kebelet Kawin yang mesti kelar hari ini.

“Sinopsis Belilah Aku Jadi Pacarmua kayaknya kurang oke tuh. Mesti gue ubah di prolognya sama lika-liku yang terjadi di dunia escorting?”

Satu demi satu, otak gue dipenuhi pertanyaan seputar cerita Kebelet Kawin dan Belilah Aku Jadi Pacarmu. Selama 15 menit di atas closet, gue belum juga menemukan ide cemerlang. Buntu! Semuanya masih berbentuk pertanyaan.

(3) Perih! Bukannya lega, perut gue malah makin sakit. Pasti ini karena kebanyakan makan sambel dan jadwal tidur yang nggak menentu. Sambil duduk di sofa dan nonton tipi, otak gue berpikir mencari-cari ide. Tapi, rasa sakit di perut gue, nggak banyak membantu. Malah, untuk ketiga kalinya, gue mesti balik lagi bercinta dengan closet.

“Cowok yang kebelet kawin itu mestinya harus tipikal libido tinggi, nggak nakal, malu-malu kucing dan bla…bla..bla….” otak gue terus berputar.

“Cewek yang jadi tokoh di Belilah Aku Jadi Pacarmu harus “beda banget” dari film-film yang udah ada. Konfliknya mesti lokal banget, sisi sex ‘n Jakarta-nya harus dominan, dan seterusnya….”

Byar! Lagi-lagi pertanyaan itu belum terjawab dengan sukses. Finally, jam 1 siang, gue mandi dan segera meluncur ke Coffee Club, Plaza Senayan.

(4) Meneguk secangkir kopi, untuk kedua kali sambil membuka email. 15 menit kemudian, perut gue mules lagi. Untuk kali keempat, gue duduk lagi di atas closet. Dan…ide itu tiba-tiba datang. Melesat dengan cepat dan tahu-tahu, di kepala gue udah kebayang kerangka cerita yang mesti gue masukin buat film Kebelet Kawin dan Belilah AKu Jadi Pacarmu.

“Enak juga merenung di atas closet. Cukup membantu gue menemukan ide meskipun rada serabutan. Setidaknya, rasa sakit di perut gue, jadi kebayar lunas….”

Note : Punya cerita yang menarik tentang closet? Nggak ada salahnya share di web ini. Thanks!!!! (foto: courtessy www.tempe.gov)

Tuesday, July 1, 2008

DOGGY STYLE


Anjing menggonggong, kafilah berlalu! Guk..guk..guk! Ini nggak ada hubungannya ama pepatah ngetop itu. Ini gara-garanya gue lagi sering ketemu ama Jacko. Bukan nama orang, tapi nama anjing temen gue. Nggak nanggung-nanggung, Jacko adalah anjing berjenis Pitpull red-nose. Umurnya baru 4 bulan, tapi badannya udah gede banget.

Hampir tiap pagi, gue ngeliatin Jacko “jalan-jalan” di depan rumah dan astaga….”kalo nggak kencing terus berlanjut boker”, pastinya Jacko lagi lari-lari dengan lidah menjulur mengitari mobil gue. Mungkin karena masih kecil jadinya demen banget “maen-maen”.

Saking seringnya ngeliatin Jacko kencing lalu boker, otak gue tiba-tiba teringat dengan gaya Doggy Style yang sering disebut sebagai salah satu “gaya ngeseks” yang oke bangeeetsss.

Gue jadi mikir, apanya yang oke dari Doggy Style? Coba bayangin anjing yang lagi “ngangkang” dengan bertumpu pada kakinya yang melebar. Busyet…gue jadi geli sendiri. Tapi kenapa gaya itu bisa ngetop banget ya ketika disangkutpautkan dengan seni ML (Making Love yang biasanya bisa bikin orang “Mau Lagi” dan “Mau Lagi”, hehehe…)….????

“Doggy Style memang variasi yang beda kok. Nggak kalah ama gaya 69,” ujar seorang teman mencoba mencari-cari jawaban yang pas.

“Dalam seks, gaya apapun di”bolehkan”. Kalo perlu, yang paling “aneh” sekalipun,” sambung satu temen yang lain.

“Ya iyalah! Selain gaya tumpang tindih alias posisi atas-bawah, pastinya berlaku juga gaya minak jinggo (miring penak jengking monggo) dan beribu gaya lainnya,” celetuk gue, sporadish.

Maksudnya, analogi Doggy Style memang nggak beda jauh dengan gaya nungging (jengking = bhs. jawa). Namanya juga variasi, jadi sah-sah saja orang mau pake gaya apa saja. Lebih-lebih, ini kaitannya ama urusan gaya ngeseks. Jangankan Doggy Style, ragam gaya yang lainnya pun bahkan kini telah dijadikan “main-course” di sejumlah tempat pelesir khusus pria-pria yang hobi buang tai macan. Sebut saja gaya helikopter alias seks nyungsang, petik anggur, gembok underwear, ranjang elektrik + 16 tali, suster nyedot, nude-army-look dan lain-lain.

“Namanya juga seks. All is about the game. Cuma maen-maen!” kata seorang papi yang biasa bertugas di sebuah kelab XXX di kawasan Mangga Besar.

Kalo cuma maen-maen, lalu pada bedanya ama si Jacko? Jangan-jangan, istilah Doggy Style itu muncul karena orang yang menciptakan istilah itu sering maen ama anjing. Ssssttttt!!!! Maaf, gue jadi mikir yang nggak-nggak. Tapi, ehmmm…bisa jadi siiiihhhhh!!!

Sudahlah! Cerita ini jangan dimasukin ke hati. Just kidding kok! Intinya, gue pengen membuat cerita lain soal Doggy Style yang tidak ada hubungannya ama urusan seks. Maunya gue, Doggy Style yang ada hubungannya ama filosofi hidup yang didalamnya muncul nilai-nilai cinta. Gimana caranya ya…? Yang jelas, sekarang ini gue lagi sibuk merangkai kerangka ceritanya.

________________________

Photo: sexuality.about.com